DR H Atabik Luthfi MA – detikRamadan

Jakarta – “Dan berbekallah kalian. Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa. Dan bertaqwalah kalian kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal“. (Al-Baqarah: 197)

Umar bin Khattab ra pernah menyampaikan pesannya tentang bagaimana menjalani kehidupan ini agar tidak memiliki ketergantungan berlebihan terhadap dunia, “Jadilah engkau di dunia ibarat orang asing atau orang yang sedang menempuh perjalanan“.

Dr. Ali Abdul Halim Mahmud dalam “fiqih dakwah”nya berpendapat, proses meraih dua kekuatan tersebut harus melalui tahapan yang hampir sama dengan tugas para da’i. Tahapan atau proses tarqiyyah (peningkatan) dan muhafadzah (pemeliharaan) kebaikan para da’i tersebut adalah: pertama, proses tathhir, pembersihan diri dari segala dosa dan maksiat. Kedua, proses tazkiyah, yaitu memperkuat diri dengan amal-amal ketaatan. Ketiga, tarqiyah, yaitu meningkatkan kualitas jiwa hingga mencapai derajat wara’ dalam segala hal.

Manakala untuk meraih kekuatan moralitas, hanya bisa dicapai melalui 4 tahapan: pertama, tathhir dengan membersihkan diri dari sikap emosional dan keras kepala. Kedua, tazkiyah yaitu mensucikan akhlak diri dengan komitmen bersama adab-adab Islam. Ketiga, tarqiyah, meningkatkan akhlak dengan mengambil suri tauladan dari akhlak Rasulullah saw. Keempat tauthin dan tatsbit, yaitu pembumian dan pengokohan akhlak-akhlak islami dalam diri yang tercermin dalam semua keadaan.

Maka, dalam rangka menunaikan kewajiban tersebut di atas, seorang da’i dituntut bisa menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber segala-galanya; mashdar tazawwud ilmi wa tsaqafi (sumber pembekalan ilmu dan pengetahuan) dan mashdar tazawwud ruhi (sumber pembekalan jiwa). Bahkan menjadikan kisah-kisah yang tersebut di dalamnya sebagai mashdar ta’assi (sumber keteladanan). Karena kisah-kisah dalam Al-Qur’an merupakan ibrah yang layak dijadikan suri tauladan, baik dalam konteks kebaikan atau keburukan, karena memang kisahnya berlaku sepanjang zaman dan bisa dipertanggungjawabkan, sehingga kita tidak perlu mencari tauladan lain yang kemungkinan berubah dan cenderung fluktuatif.

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”.(Yusuf: 111)

Bahkan Dr. Sayyid Muhammad Nuh mengkategorikan amaliah ini sebagai peringkat dzikir yang paling tinggi, yaitu dzikir dengan tafaqquh fid din. Beliau mengilustrasikan pentingnya dzikir tafaqquh fid din ini dengan kisah seorang abid yang bernama Juraij. Ketika ia sedang menunaikan sholat, tiba-tiba ibunya yang sudah lanjut usia mengetuk pintu dan memanggilnya. Lantas Juraij berfikir, apakah memutuskan sholat untuk menyahut seruan ibunya ataukah meneruskan sholatnya. Dan ternyata ia memilih meneruskan sholatnya dan tidak mengindahkan panggilan ibunya. Sampai Rasulullah saw menegaskan tentang diri Juraij dalam sabdanya, “Semoga Allah merahmati Juraij, sekiranya ia tahu, maka ia akan memilih untuk memutuskan sholatnya”. Inilah keyakinan yang senantiasa Allah ingatkan kita dengan firmanNya yang tidak asing lagi bagi kita, “Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashirah. Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik”.( Yusuf: 108)

Tazawwud ilmi di atas, harus diiringi dan diimbangi dengan tazawwud ruhi. Dr. Sayyid Muhammad Nuh mengistilahkan proses ini dengan dzikrul jawarih, yang intinya adalah pelaksanaan hak-hak Allah swt seperti sholat lima waktu, qiyamul lail, puasa, shodaqah, tilawatul Qur’an, dan lain sebagainya serta penyempurnaan hak-hak sesama manusia, sehingga jaminan Allah swt akan turun kepada mereka yang serius dan komitmen melakukan amaliah ini. “Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira”.(At-taubah: 124). Hanya orang-orang yang mendalam imannya yang bisa tergerak dengan satu sentuhan surat dari Al-Qur’an, apalagi jika sentuhan itu dilakukan dengan keseluruhan ayat-ayatNya. Dan telah munafiklah orang yang tidak tersentuh sedikitpun dengan ayat-ayatNya.”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-Ra’d: 28)

Kondisi psikis manusia terkadang berada di bawah bayang-bayang kebimbangan antara titah Tuhan yang harus dilaksanakan dengan ancaman hukuman jika tidak melaksanakan titah tersebut. Sehingga manusia, dalam menjalankan perintahNya sangat membutuhkan pertolongan Allah dan ketika menghadapi hukuman, sangat membutuhkan kasih sayangNya. Pertolongan dan kasih sayang inilah yang akan melahirkan ketenangan, ketentraman dan kelembutan batin. Satu kondisi yang memang sangat didambakan oleh setiap insan yang beriman.

Menurut Ibnu Qayyim, “Refleksi otentik kelembutan bathin adalah sikap tunduk patuh kepada Allah dengan penuh kerendaha hati, berserah diri dengan sepenuh hati dan merasa teduh di pangkuanNya dengan seluruh jiwa dan luapan kegembiraan”.

Kelembutan bathin merupakan buah dari interaksi batin seseorang dengan Tuhannya. Kelembutan itu meningkat sesuai dengan meningkatnya interaksi dengan Tuhannya, demikian juga sebaliknya.

Dalam perspektif Al-Qur’an, rasa aman merupakan buah dari ketulusan iman seseorang (Al-An’am: 81-82). Kepuasan batin juga selain ditentukan oleh adanya rasa aman, juga dikarenakan terpenuhinya berbagai tuntutan kepuasaannya dengan sejumlah makanan rohani yang bernilai tinggi. Sebab, seperti halnya fisik, keadaan batin seseorang juga akan dilanda kegelisahan terus menerus jika tidak diberi makanan ruhani (spritualitas) yang cukup. Dzikir adalah salah satu dari makanan ruhani yang paling bergizi.

Dzikir adalah mengingat Allah; merupakan salah satu dari upaya mendekatkan diri kepadaNya dan menyingkitkan keadaan lupa dan lalai kepadaNya dalam setiap situasi kemanusiaannya. Dengan dzikir ini manusia dapat keluar dari suasana lupa dan lalai yang dapat dijadikan syaitan celah untuk mendominasinya (Az-Zukhruf: 36).

Berdzikir dapat melembutkan hati. Dengan kelembutan hati ini seseorang dapat melihat kebenaran terang benderang dan bersedia mengikutinya serta terpelihara dari berbagai godaan yang menghalanginya. Kelembutan ini merupakan energi yang besar karena mampu menghimpun hati orang lain bersamanya. Sebaliknya hati yang liar, kasar dan keras membatu menyebebakan orang lari darinya.“ Ali Imran: 159)

Dimensi dzikir sangat luas, tidak terbatas oleh ruang dan waktu tertentu, ia merupakan amalan spiritual yang sejatinya merupakan salah satu refleksi cinta seseorang kepada Tuhannya.

Berbeda dengan makanan fisik, yaitu benda benda yang apabila seseorang mengkonsumsinya secara berlebihan justru akan membahayakan fisik itu sendiri, namun mengkonsumsi makanan rohani justru dianjurkan sebanyak banyaknya. Semakin bannyak makanan rohani yang masuk, maka akan semakin tenang dan tentram kondisi psikis seseorang. Oleh itu , Allah memerintah manusia untuk berdzikir sebanyak-banyaknya, di waktu pagi dan petang, dalam keadaan berdiri dan berbaring, (Ali Imran: 191, Al-Ahzab: 41)

Renungan penulis sepanjang Ramadan tahun lalu, bahwa sikap arogan, cenderung anarkis dan brutal dalam kehidupan sehari-hari umat turut dipengaruhi dengan fokus perhatian dan kegalauan mereka terhadap urusan konsumsi perut, bukan tentang kebutuhan rohani dan makanan hati tersebut, sehingga sangat mudah disulut emosi dan lebih mengandalkan kekuatan fisik daripada kekuatan hati dan fikiran yang jernih.

*) DR. H. Atabik Luthfi, MA, Ketua IKADI (Ikatan Da’i Indonesia) Wilayah Jakarta. Materi ini disampaikan dalam safari dakwah di Wina, Austria. (asy/asy)

Next Page »